Sabtu, 20 Agustus 2011

Oeang Republik Indonesia 1947-1948

UANG ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah Atjeh), 1947-1948














Uang Republik Indonesia Daerah Sumatera 1947 - 1948














UANG ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah Atjeh), 1947-1948
















UANG Republik Indonesia Daerah Jambi







UANG Republik Indonesia Daerah Lampung




UANG Republik Indonesia Daerah Medan



Uang kertas PRRI (Pemerintah Republik Revolusioner Indonesia)


Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI) merupakan sebuah gerakan koreksi dari daerah akibat ketimpangan pembangunan antara pusat (Jakarta) dengan daerah-daerah lain, dan semakin kuatnya cengkraman PKI terhadap kekuasaan melalui Presiden Soekarno. Gerakan koreksi ini mencapai puncaknya tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan di Padang, Sumatera Barat.













Semua tokoh PRRI adalah para pejuang kemerdekaan, pendiri dan pembela NKRI. Sebagaimana ditegaskan Ahmad Husein dalam rapat Penguasa Militer di Istana Negara April 1957; Landasan perjuangan daerah tetap Republik Proklamasi dan berkewajiban untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indoensia tercinta.
Namun, gerakan koreksi atau gerakan penyelamatan negara yang tumbuh di daerah-daerah itu dipukul habis oleh Pusat (Jakarta) dengan mengerahkan pasukan darat, laut dan udara ke Sumatra Tengah dan Sulawersi Utara, sebuah pengerahan pasukan militer terbesar yang pernah tercatat di Indonesia.
Sampai sekarang, gerakan koreksi dari daerah ini masih selalu kelam. Dan di dalam buku-buku sejarah Indonesia selalu disebutkan bahwa PRRI adalah gerakan pemberontakan, dan gerakan anti Jawa. Namun sejarah akan selalu berhasrat untuk terus diluruskan.

Kabinet PRRI

*-Mr. Sjafruddin Prawinegara sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan,
*-Dahlan Djambek sebagai Menteri Dalam Negeri, kemudian diserahkan kepada Mr.Assaat Dt. Mudo,
*-Maluddin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri,
*-Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran,
*-Moh. Syafei sebagai Menteri PPK dan Kesehatan,
*-J.F. Warouw sebagai Menteri Pembangunan,
*-Saladin Sarumpaet sebagai Menteri Pertanian dan Perburuhan,
*-Muchtar Lintang sebagai Menteri Agama,
*-Saleh Lahade sebagai Menteri Penerangan,
*-Ayah Gani Usman sebagai Menteri Sosial,
*-Dahlan Djambek sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi setelah Mr. Assaat sampai di Padang. – (Sumber: Wikipedia).

Kumpulan Mata Uang dari Tahun 1946

Mata uang adalah alat pembayaran transaksi ekonomi yang digunakan di suatu negara. Untuk Indonesia, mata uang adalah Rupiah. Dahulu kala, manusia primitif belum menggunakan uang, ataupun alat pertukaran. Ini dikarenakan oleh pada waktu itu manusia dapat memenuhi semua keinginannya dari lam sekitarnya. Ketika sumber daya alam yang mereka gunakan habis, mereka berpindah dan mulai menggunakan sumber daya alam yang ada di sekitarnya lagi. Barulah ketika munculnya peradaban kuno manusia mulai menukar barang miliknya dengan barang milik orang lain, yang disebut barter. Kemudian setelah zaman lebih maju, manusia mulai menggunakan alat penukar, walaupun belum berupa uang. Alat ini disebut uang barang. Barulah setelah manusia menguasai penggunaan tulisan dan huruf, dikenallah uang atau disebut uang kepercayaan (uang fiduciair).
Apa yang di suguhkan oleh IWAN DAHNIAL tentang mata uang ini sangat memiliki nilai sejarah dan nilai seni yang tinggi. Pokoknya untuk blog nya IWAN DAHNIAL Top abis.

UANG KERTAS INDONESIA
TAHUN 1946 – 2004
(Serta uang kertas jaman Belanda dan Jepang)


Mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka adalah Oeang Republik Indonesia atau ORI. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.
Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks undang undang ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javache Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak oleh Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.
Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Jogjakarata pada 1 Januari 1947, Seri ORI III di Jogjakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Jogjakarta pada 17 Agustus 1949, dan Seri 17 Agustus 1949, dan Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta pada 1 Januari 1950.
Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di Jogjakarta, Surakarta dan Malang. (Sumber: Wikipedia).

Uang kertas ORI (Oeang Republik Indonesia)























Uang ORI Rp.100 dengan tandatangan Maramis


Uang ORI Rp.100 dengan tandatangan Maramis




Uang ORI Rp.600 dengan tandatangan Hatta



Uang kertas RIS (Republik Indonesia Serikat)





Republik Indonesia Serikat, disingkat RIS, adalah suatu negara federasi yang yang berdiri pada tanggal 27 Desember 1949 sebagai hasil kesepakatan 3 pihak dalam Konferensi Meja Bundar yaitu Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) (UNCI) sebagai perwakilan PBB.
Pemerintahan RIS (kabinet ministerial) dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta, sedangkan Presidennya adalah Soekarno. Republik Indonesia Serikat yang beribu kota di Jakarta, terdiri beberapa negara bagian, yaitu:

Republik Indonesia.
Negara Indonesia Timur.
Negara Pasundan..
Negara Jawa Timur.
Negara Madura.
Negara Sumatra Timur.
Negara Sumatra Selatan.

Di samping itu, ada juga negara-negara yang berdiri sendiri dan tak tergabung dalam federasi, yaitu:

Jawa Tengah.
Kalimantan Barat.
Dayak Besar.
Daerah Banjar.
Kalimantan Tenggara.
Kalimantan Timur (tidak temasuk bekas wilayah Kesultanan Pasir).
Bangka.
Belitung.
Riau.

Republik Indonesia Serikat dibubarkan pada 17 Agustus 1950, dan kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan kendali sepenuhnya dari presiden Soekarno (kabinet presidential) beserta wakil presiden Mohammad Hatta. (Sumber: Wikipedia).

UANG KERTAS REPUBLIK INDONESIA
1951






UANG KERTAS BANK INDONESIA
1952



Rp. 5 – 1952


Rp.10 – 1952


Rp.25 – 1952


Rp.50 – 1952


Rp.100 – 1952


Rp.500 – 1952


Rp.1000 – 1952

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1953



Rp.1 – 1953

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1956


Rp.1 – 1956


Rp. 2,5 – 1956

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1957



Rp. 5 – 1957


Rp. 50 – 1957


Rp. 100 – 1957


Rp. 2.500 – 1957

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1958



Rp. 5 – 1958


Rp. 25 – 1958


Rp. 1.000 – 1958


Rp. 5.000 – 1958

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1959



Rp. 5 – 1959


Rp. 10 – 1959


Rp. 25 – 1959


Rp. 50 – 1959


Rp. 100 – 1959


Rp. 1.000 – 1959

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1960



Rp. 5 – 1960


Rp. 10 – 1960


Rp. 50 – 1960


Rp. 100 – 1960

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1961



Rp. 1 – 1961


Rp. 2,5 – 1961

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1963



Rp. 10 – 1963

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1964






5 sen – 1964


10 sen – 1964


25 sen – 1964


50 sen – 1964


Rp. 1 – 1964


Rp. 50 – 1964


Rp. 100 – 1964


Rp. 100 – 1964


Rp. 25 – 1964


Rp. 10.000 – 1964


Rp. 10.000 – 1964

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1968



Rp. 2,5 – 1968


Rp. 10 – 1968


Rp. 50 – 1968


Rp. 100 – 1968


Rp. 1.000 – 1968

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1975



Rp. 1.000 – 1975


Rp. 5.000 – 1975


Rp. 10.000 – 1975

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1977



Rp. 100 – 1977


Rp. 500 – 1977

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1980



Rp. 1.000 – 1980

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1982



Rp. 500 – 1982

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1984



Rp. 100 – 1984

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1985



Rp. 10.000 – 1985

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1986



Rp. 5.000 – 1986

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1988



Rp. 500 – 1988

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1992



Rp. 100 – 1992


Rp. 500 – 1992


Rp. 1.000 – 1992


Rp. 5.000 – 1992


Rp. 10.000 – 1992

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1993



Rp. 50.000 – 1993

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1995



Rp. 20.000 – 1995

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1998



Rp. 10.000 – 1998


Rp. 20.000 – 1998

UANG KERTAS BANK INDONESIA
1999



Rp. 50.000 – 1999


Rp. 100.000 – 1999

UANG KERTAS BANK INDONESIA
2000



Rp. 1.000 – 2000

UANG KERTAS BANK INDONESIA
2001



Rp. 5.000 – 2001


UANG KERTAS BANK INDONESIA
2004



Rp. 20.000 – 2004



Rp. 100.000 – 2004

UANG KERTAS BANK INDONESIA
2005



Rp. 10.000 – 2005


Rp. 50.000 – 2005